Written by: onuspra on May 7, 2010 @ 11:28 am
Pagi yang cerah membangunkan ibu – ibu pemerah susu untuk mulai memerah susu dari sapi – sapi frisian holstein yang nantinya akan diolah menjadi beragam panganan bergizi tinggi . Mereka terlihat gembira dan raut mukanya dipenuhi senyuman untuk menyambut pekerjaan berat hari ini. Sebelum berangkat tidak lupa ibu – ibu itu mengenakan alas kaki andalan mereka yaitu klompen yang akan menemani mereka seharian menghadapi dunia. Belanda yang memiliki iklim laut sedang memang memiliki cuaca yang cukup dingin dikala musim dingin tiba dan cukup panas dikala musim panas tiba. Dan Klompen yang terbuat dari kayu yang mudah menyerap suhu ini mampu melindungi kaki dari udara yang dingin maupun udara yang panas, serta mampu melindungi kaki dari karakteristik tanah Belanda yang cenderung berlumpur karena sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut.
Sumber gambar : Wikipedia
Klompen atau sepatu kayu secara historis sudah dikenal di negeri Belanda sejak tahun 1270 M. Sepatu kayu ini sangat populer untuk dikenakan para petani dan pekerja buruh, termasuk ibu – ibu pemerah susu sapi. Klompen sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan tidak saja para petani, buruh, maupun pemerah susu sapi, namun masyarakat Belanda pada umumnya. Klompen yang terlihat sederhana ini menyimpan sejuta fungsi yang tidak kalah bila dibandingkan dengan kantong ajaib Doraemon tentunya. Selain fungsi utamanya sebagai alas kaki, Klompen mampu berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang – barang kecil dan juga sebagai vas bunga.
Selain fungsi – fungsi yang mengagumkan dari sebuah Klompen. Ada poin penting yang ternyata tersisip dari sebuah alas kaki bernama Klompen ini.
Yap, Klompen memiliki nilai kultural yang sangat menggambarkan ciri khas masyarakat Belanda. Bentuk dan bahan material pembuatnya yang sederhana, serta mudah didapat, menggambarkan masyarakat Belanda yang hidup dalam kesederhanaan, hidup hemat dan bekerja keras untuk meraih sesuatu . Analogi dari kerja keras itu terlihat dari proses pembuatan klompen yang memang memerlukan kerja keras, sebab untuk mengolah sebuah kayu menjadi alas kaki memerlukan keterampilan serta keuletan agar menjadi alas kaki yang benar – benar nyaman dipakai.
Fungsi dan nilai yang tersisip dari sepatu Klompen ini ternyata dimanfaatkan dengan benar – benar maksimal oleh masyarakat Belanda untuk menjadi ciri khas mereka, kebanggaan mereka, inovasi mereka yang mampu menginspirasi banyak orang. Klompen ini terus berjaya mengarungi zaman dan semakin dikenal oleh masyarakat eropa dan dunia. Di Belanda sendiri terdapat dua daerah yang diberi nama “De Klomp”, yaitu sebuah kampung di Ede (Provinsi Gelderland), dan sebuah tempat di Weesp (Provinsi Noord-Holland). Hingga kini Klompen tidak hanya masih digunakan sebagai alas kaki, namun mampu dieksplor menjadi sumber pendapatan mereka untuk menarik wisatawan asing datang ke negerinya. Klompen di alih fungsikan menjadi bermacam suvenir cantik yang mampu memikat setiap orang untuk melirik dan membelinya.
Inspirasi yang paling fenomenal yang diberikan klompen adalah dari bentuknya yang simple dan Klompen yang mudah dipakai, ternyata mampu menginspirasi sepatu masa kini yang begitu populer di kalangan muda – mudi yaitu sepatu model slip on atau langsung pakai tanpa perlu mengikatkan tali.
Selain itu banyak pula modifikasi – modifikasi lain dari klompen hingga masa kini seperti terbuat dari plastik danbahan material lainnya yang mampu menarik perhatian banyak orang .
Hmm dari gambar tersebut pasti anda semua ingat kan di sebuah mal elite di jakarta pun, terjadi hal yang sangat fenomenal saat produk ini diobral, padahal masih dalam kisaran harga yang relatif mahal tapi orang rela antri berjam – jam sampai antriannya panjang hanya untuk mendapat produk tersebut. Padahal kalau ditelisik semua bentuknya yang bermacam – macam dan menarik ini hanya berawal atau jelmaan dari sebuah bentuk sederhana klompen yang awalnya hanya dipakai pekerja buruh, petani, pemerah susu di Belanda untuk bekerja, namun kini menjadi trend dan gaya anak muda masa kini.
Disini kembali terlihat poin positif yang ada tersisip dari masyarakat Belanda. Yaitu sebagai masyarakat yang terbuka akan perkembangan zaman, masyarakat yang terbuka akan perubahan ke arah positif, terbukti dari Klompen yang adalah tradisi dan kebudayaan khas masyarakat Belanda, yang dengan senang hati mereka memberi kebebasan kepada orang – orang dari bangsa lain untuk mengadaptasi bentuk dari Klompen ini menjadi produk lain yang begitu populer masa kini.
Bentuk lain dari keterbukaan Belanda dan penghargaan Belanda akan pendapat orang lain juga tampak pada sistem pengajaran di Belanda yang sangat interaktif dan berpusat pada peserta belajar itu sendiri, memberikan perhatian dan kebebasan lebih bagi mahasiswa untuk mengembangkan pendapat dan kreativitas dalam menerapkan ilmu yang dipelajari. Keterbukaan lain Belanda juga tampak dari bahasa yang digunakan dalam proses pengajarannya. Belanda merupakan negara non berbahasa Inggris pertama yang menawarkan program studi berbahasa Inggris. Lebih dari 1400 program studi internasional untuk berbagai bidang ditawarkan oleh pendidikan tinggi Belanda.
Kembali ke judul dari tulisan kali ini, bahwa sepatu kayu yang terlihat sepele ini menyisipkan banyak nilai kultural dari masyarakat Belanda yang sederhana, pekerja keras , dan terbuka pada hal positif. Sepatu kayu ini ternyata mampu memberikan banyak inspirasi bagi dunia luas. Kesederhanaan yang ditunjukkan Klompen yang hanya terbuat dari kayu ini ternyata tidak lapuk dimakan usia dan hanya menjadi barang rongsokan belaka, namun mampu bertahan dan mampu bertransformasi menjadi produk – produk lain yang tidak lagi sederhana, melainkan menjadi hal yang sangat luar biasa. Sekarang ,di Tahun 2010 ini, senyuman ibu – ibu pemerah susu di pagi hari yang menghiasi wajah mereka dengan semangat kesederhanaannya dapat terlihat di raut wajah setiap orang yang tampak lalu lalang di pusat perbelanjaan dengan alas kakinya yang merupakan jelmaan dari sepatu kayu yang tak pernah lapuk mengarungi zaman.
Referensi
Clog Shoe. Diambil 29, 04, 2010, dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Clog_(shoe)
Crocs. Diambil 29, 04, 2010, dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Crocs
Gunaryadi.(2006). Sepatu kayu khas nederland. Diambil 29, 04, 2010, dari
http://salamaa.blogspot.com/2006/06/klompen.html
Holstein Cattle. Diambil 29, 04, 2010, dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Holstein_(cattle)
http://onuspra.wordpress.com/2010/04/29/sepatu-kayu-itu-tak-pernah-lapuk-mengarungi-zaman/
Catogories: Peserta






hmmm.. tulisan yang menarik. Aku jadi tahu sepatu yang kayak githu ternyata inovasinya dari belanda.
Salam!!!
http://sangpengembara47.blogspot.com/2010/04/negeri-kincir-angin-tujuan-studiku.html yusnaeni
salam kenal sesama peserta sobat..
tulisan sobat2 ni keren2 ..
saya takjub..
good luck.. faiza
katanya Jepang waktu restorasi meiji kan banyak berguru ke Belanda nih… (baca2 disomewhere hasil postingan dikompetiblog)
sbenernya sepatu kayu ini, ingetin gue sama sendal ala jepang juga lo… inget gag yg film2 klasik jepang, oshin, geisha.. jangan2 ada hubungan sejarah nih…mengingat jepang juga blajar dr belanda.. haha just hipotesa lo
promosi yah, singgah atuh dan tinggalin jejak…
http://myunspokenminds.wordpress.com/category/kompetiblog/ Rahma
wow amazing buanget dahhh ngupingers
iya bener banget
yihaaa….
loh koq jadi koboi *gubrak*
suzannita
moga aja bisa dapet sepatu kayu itu…
kalo di bandung (sunda), klompen disebutnya kelom. di tasik jadi kelom geulis
hahn
kalo inovasi bakiak terinspirasi dari klompen belanda jugakah?? hehe
rina_okta
wkwkwkkwwkkwkwk… kelom geulis… *guling-guling* suzannita
hhehe,,, saya baru tau klo kelom kata serapan dari bahasa belanda.. hehehehe
@rina_okta.. hehehehehe bnr juga.. kyknya gtu deh. hehehehhe dieka2501
wah kalao di tempatku di jawa..klompen itu identik dengan sandal dari kayu yang ikatannya dari bekas ban
nah itu nama lainnya bakiyak…
kalau pas 17-an, maka balap klompen atao balap bakiak jadi ajang paling rame dan paling membuat orang terpingkal2
hehe, ini masalah termonilogi aja..sip2 jazz muhammad
o ya mau nanya dimana beli sepatu kayu itu ? suzannita
Iya ya sampai sekarang masih ada aja tuh sepatu kayu Mimin
wooow.. keren tuh, kamu berhasil memandang masyarakat dan alam belanda dari sepatu yang mereka kenakan :-bd. nice work, pal. sulamit
di betawi tanah Jakarta ada bakiak. sekarang masih bisa dijumpai di beberapa masjid atau musholla untuk berwudu. bunyinya klotak-klotak mirip sepatu kayu ala belanda….. sukron
my article :
http://maharlintang.wordpress.com/2010/04/29/leiden-dan-snouck/ sukron
yusnaeni, faiza, rahma, ngupingers, suzannita, hahn, rina_okta, jazzmuhammad, dieka2501, mimin, sukron , dan sulamit, hehehehe saya sebutin semua ya namanya untuk menghargai kalian, makasih banyak udah mau baca dan meninggalkan komentar positif kalian. Semoga berguna ya tulisan ini onuspra