Written by: Irma Kasri on May 2, 2010 @ 1:09 pm
Kalau orang Indonesia ditanya apa yang mereka ketahui tentang Belanda, kita pasti akan mendapatkan jawaban selain ‘tidak tahu’. Jawabannya bisa sangat beragam, masyarakat umum setidaknya akan menjawab “Indonesia pernah di jajah Belanda dulu” atau jika bertanya ke pelajar/mahasiswa mungkin jawabannya akan sedikit lebih panjang dan ilmiah.
Dan apabila pertanyaan diajukan kepada para veteran, tentulah kita akan mendapatkan cerita bagaimana mereka melawan tentara kolonial Belanda untuk sebuah kemerdekaa. Saya yakin kalau dikumpulkan dan dibukukan tiap cerita manusia Indonesia yang lebih dari 230 juta jiwa ini, pastilah perpustakaan mana pun tidak akan sanggup menampungnya. Dan kalau perpustakaan itu mempunyai mesin pencari seperti Google, pasti akan ada milyaran kata ‘Belanda’ yang ditemukan.
Kata ‘Belanda’ hanyalah sebuah contoh, karena sebenarnya ini merupakan istilah dalam bahasa Indonesia untuk negara yang dikenal universal sebagai The Netherland. Namun, satu hal yang pasti, Belanda adalah brand khusus yang setidaknya dikenal oleh hampir seperempat milyar orang di dunia dan itu adalah keuntungan yang sangat besar bagi mereka. Bagaimana dengan 6 milyar orang lainnya di dunia? apakah mereka cukup mengenal belanda?
Saya tidak bisa melakukan survey satu per satu tapi saya yakin anda akan setuju kalau jawabannya adalah iya. Untuk menguatkan, Belanda dikenal sebagai Top 20 tujuan wisatawan dunia dan bandingkan dengan Indonesia yang hanya di posisi 34 (sumber: UNWTO 2009) yang artinya jumlah pengunjung negara ini lebih besar dari Indonesia. Hal-hal yang mungkin mereka kenal dari negara ini adalah kincir anginnya, bunga tulip, keju, baju tradisionalnya, kanalnya dan yang terbaru dengan brand I amsterdam yang mewakili ibu kotanya. Brand ini sangat mudah diingat, mewakili sesuatu yang sangat jelas dan menyampaikan pesan tertentu kepada setiap orang yang mendengar atau melihatnya bahwa ini adalah tentang Kota Amsterdam.
Brand kota Amsterdam ini sangat mengusik saya, terlebih melihat orang yang balik dari negara itu dengan bangga memamerkan foto dengan latar kata I amsterdam atau kaos bertuliskan sama. Hal ini menunjukkan tidak hanya orang Amsterdam sendiri yang bangga akan jati diri baru mereka tapi juga orang-orang yang mengunjungi kota ini. Rasanya kalau saya diberikan kesempatan kesana, pastinya saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk berfoto di depan lambang kota ini. Sesuatu yang mungkin tidak begitu menggebunya ketika saya mengunjungi kota-kota di Indonesia.
Sebenarnya banyak kota di Indonesia yang punya brand sendiri. Kita pasti sering mendengar Bogor kota hujan, Bandung kota kembang dan yang paling terkenal adalah Bali dengan sebutan Pulau Dewata atau ‘The Island of God’. Harus diakui dengan begitu terkenalnya pulau Bali (dengan brand: Bali) membuat Indonesia sering di anggap bagian dari Bali dan bukan sebaliknya. Hal ini berarti telah terjadi salah pengkomunikasian brand Indonesia terhadap masyarakat luas.
Menurut para ahli, city branding atau lambang kota adalah sebuah inovasi yang ‘memaksa’ sebuah kota untuk menunjukkan kekuatan mereka dan menjualnya beserta dengan produk yang mereka tawarkan. Ada dua target utama dari pencanangan sebuah city branding yaitu penduduk daerah tersebut dan masyarakat luar. Penduduk setempat menjadi kunci keberhasilan konsep ini karena kalau penduduknya saja tidak bangga lantas bagaimana caranya untuk menjual produk ke orang asing. Tapi yang paling baik dari city branding adalah memformulasikannya dari apa yang sudah ada di daerah itu sehingga tidak terdapat pemaksaan pesan yang ingin disampaikan dan tentunya pesan tersebut dapat tersampaikan dengan baik.
Saya akan ambil contoh pada city branding I amsterdam yang saya baca di www.iamsterdam.com. I amsterdam adalah sebuah motto yang menjadi lambang (brand) dari kota Amsterdam dan penduduknya. Secara umum, Amsterdam menjanjikan keberagaman dan kesempatan yang luas sehingga menjadikannya sebagai pilihan tepat untuk berbisnis, melanjutkan pendidikan, sebagai tempat tinggal atau sebagai tujuan wisata. Kota ini juga memiliki warisan sejarah dan budaya yang berharga, semangat berdagang, infrastruktur yang inovatif, kehidupan yang attraktif dan penuh kreatifitas yang akan membedakannya dengan kota lain di Eropa. Pesan ini diterima penduduknya dengan baik dan dengan sarana prasarana yang ada, mereka menganggap I amsterdam sebagai kebanggaan, kepercayaan dan dedikasi mereka. I amsterdam adalah sebuah dukungan pribadi dari penduduknya untuk kota mereka. Dan penggunaan I amsterdam telah menunjukkan secara jelas banyaknya manfaat dan kesempatan yang membuat Amsterdam sebagai kota pilihan.
Belajar dari city branding I amsterdam, saya berpikir kenapa Indonesia atau daerah-daerah di negara tercinta ini tidak berusaha membuat sesuatu yang serupa. Kalau kita sudah berhasil membuat Bali sebegitu terkenalnya, bukan tidak mungkin membuat daerah-daerah lain mendapatkan hal yang sama. Indonesia punya banyak ahli marketing dan branding yang bahkan diakui tingkat dunia, namun sayang belum dimaksimalkan ilmunya di negara sendiri. Kita tidak mampu bukan karena tidak bisa, tapi lebih karena kurangnya kemauan untuk berpikir jauh dan berani menciptakan sebuah inovasi.
link; http://irmakasri.blogspot.com/2010/04/belajar-dari-i-amsterdam.html
Catogories: Peserta
irmaaaaa…
lama banget kita ngga ketemu!
love this, well analyzed. anien
wahh,,, city branding ya.. hoohoho
kykny untuk bandung lebih cocok kota FO.. kan kembangnya udah jarang…
dieka2501
I’m Indonesian… and I want to go to Amsterdam
…
semoga Allah menyampaikan langkah kaki ini kesana
suzannita
bismillah, semoga saya bisa ke sana.
nengratna
I AMsterdam….it’s so creative
ngena banget…
mungkin pemerintah harus lebih nge-brand-ing lagi tuh enjoy jakarta, jogja never ending asia atau sparkling surabaya permanaijies
semoga saya bisa ke Belanda, dan belajar lebih banyak lagi untuk ikut memberikan warna perubahan bagi negeri suzannita